The Corner
This is Half-Blood Apollo's territory. Demigods (especially my siblings all children of Apollo) and heir of Pharaohs are belong here. Faithful mortals are welcome. This is my public territory to share my interests, stories, and maybe secret informations that might be useful for you. Hope you find what you're looking for. But be careful, knowing too much is never a good thing.
The Story of Lee Fletcher II
|
|
comments (0)
|
A Promise
Vala
Vala mendaratkan pegasusnya dengan perasaan luar biasa lega di Perkemahan Blasteran. Chiron, saudara-saudaranya dari kabin Apollo dan seorang satir tua yang dirasanya bernama Silenus menyambut kedatangannya dan gerombolannya.
“Trims, Porkpie.” Vala mengusap leher pegasus itu dengan sayang. Porkpie meringkik sedikit dan mendengus, seolah mengatakan, “Ini bukan apa-apa tapi jangan ajak bocah itu ya lain kali.”
Vala menoleh ke belakangnya, Nico masih terlihat tidak nyaman.
“Nico? Kita sudah sampai. Tidak apa apa. Turunlah.”
Nico terdiam dan berusaha turun dari punggung Porkpie. Si pegasus mendengus lega saat kaki Nico menginjak tanah.
“Hey, Porkpie. Jangan kasar begitu.” Ujar Percy di sisi Blackjack. “Nico nggak seperti itu.”
Kadang-kadang Vala pikir asyik sekali menjadi anak Poseidon. Bayangkan saja, kekuatan mengendalikan berbagai jenis air, tahu koordinat saat terombang ambing di tengah lautan, bernapas dalam air dan bahkan tidak perlu basah. Juga berbicara pada pegasus dan kuda dan zebra dan segala macamnya.
“Vala.”
Vala menoleh dan melihat kakaknya, Lee Fletcher. “Oh, hai Lee.”
Lee tersenyum padanya namun Vala menyadari ekspresinya sedikit aneh. Ditatapnya Lee dengan kening berkerut, “Kau baik-baik saja?”
“Demi dewa-dewa, harusnya aku yang bertanya apa kau baik-baik saja. Lihat dirimu babak belur seperti itu. Kau pikir aku tidak khawatir selama ini saat kau menjalani misimu? Kau pikir... Astaga...” Lee memegangi kepalanya. “Maafkan aku, aku hanya lega kau pulang dengan selamat.”
Vala tertawa kecil dan memeluk kakaknya. “Kau mengingatkanku pada ibunya Percy. Caramu berbicara seperti itu mirip sekali dengannya.” Vala melepas pelukannya. “Dan aku baik-baik saja, kak. Terima kasih.”
Lee tersenyum kecil. “Aku lega.”
“Jadi...” Vala melihat sekeliling, Percy sedang menceritakan tentang misi mereka kepada Chiron dan yang lain. Annabeth dan Nico berada di sisinya. Ugh, Vala bergeridik. Dia tidak mau mengingat-ingat pengalamannya di labirin itu. Sebentar lagi hampir pasti bahwa perkemahan akan diserang. Vala ingin menenangkan pikirannya sebentar saja. Lebih baik dia memfokuskan pikirannya pada hal yang lain. Seperti... menggoda Lee.
“Jadi, apa saja yang kulewatkan selama mejalani misi? Kau sudah jadian dengan Bella?” Tanya Vala dengan ekspresi jahil, ditariknya tangan kakaknya menjauhi kerumunan. Vala melambai membalas lambaian Will dan Kent yang tersenyum. Mereka sudah siaga dengan busur mereka. Paham bahwa perkemahan mereka berada di ambang perang, namun masih sempat memberikan dukungan moral pada Vala.
“Vala!” desis Lee tertahan.
“Hey, aku hanya bertanya. Dan kau hanya tinggal jawab, sudah atau belum? Memangnya sulit menjawab pertanyaan adikmu ini?”
Lee menatap Vala. “Kau itu terkadang bisa jadi sangat menjengkelkan, kau tahu?”
“Oh, aku memang berusaha.” Jawab Vala dengan ekspresi tidak pedulinya yang khas. “Jadi?”
Lee menggeleng.
“Eeeh, gelenganmu berarti kau belum menyatakannya atau kau ditolak?”
“Belum...”
“Ya ampuun! Jadi kau masih belum melaksanakannya juga?” Vala menepuk keningnya dengan dramatis. “Lee Fletcher sang pemanah terbaik dalam milenia ini ternyata seorang pengecut.”
“Aku bukan pengecut! Aku hanya.... menanti waktu yang tepat.”
Vala memutar bola matanya, “Oh, dan dia adalah orang yang sangat klise.”
“Kak, sampai kapan kau mau bertahan dalam argumen, 'menanti waktu yang tepat'-mu? Siapa yang tahu kapan waktu kita akan berakhir? Jika kau mau melakukan sesuatu yang penting, lakukan dengan sempurna dan lakukan dengan segera, sekarang, saat ini juga. Atau kau akan menyesalinya nanti.” Vala berkedip seolah tersadar, “Ooo-kee aku bahkan terdengar lebih klise barusan.”
Lee tersenyum dan mengacak rambut Vala. “Akan kupikirkan nanti. Sekarang aku harus rapat dengan Chiron dan yang lain. Oh, dan sepertinya kau harus menemani teman kecilmu itu, siapa, Nico? Dia sepertinya membutuhkan secangkir nektar. Hmm, kau juga membutuhkannya.”
“Baiklah. Jangan berpikir- pikir terlalu lama, ya.”
Lee menyunggingkan senyum sebelahnya dan tertawa kecil. Wajahnya seolah bersinar di mata Vala. “Selamat tinggal, Val.”
“Daah.” Ujar Vala. Namun tak urung dia memandangi punggung kakaknya itu selagi dia berbalik menuju rumah besar untuk mengikuti rapat. Entah mengapa rasanya agak berat saat dia memandang Lee pergi menjauh.
Kenapa juga dia mengatakan 'selamat tinggal' dan bukan 'sampai jumpa'? Vala menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak. Jangan berpikiran aneh aneh lagi. Lee akan baik-baik saja. Dia pasti akan baik baik saja. Jangan konyol, Vala.
“Vala? Kau yakin kepalamu baik-baik saja?”
Vala menoleh dan tersenyum pada Nico yang memandangnya dengan mata sedikit menyipit.
“Selain kegilaan normalku? Aku yakin aku baik baik saja jangan khawatir.” Jawab Vala sambil tertawa kecil. “Tapi kurasa wajahmu agak pucat. Ayo, kau butuh secangkir nektar dan mungkin beberapa gigit ambrosia. Ikuti aku.”
>>>>>>>>
Arabella
“Silena, kau dipanggil untuk menghadiri rapat bersama Chiron.” Ujar Drew menghampiri Silena dan Arabella yang sedang menyortir baju-baju zirah.
“Oh, baiklah. Drew, kau bantu Bella menyortir baju-baju zirah ini, ya. Aku pergi dulu.”
Arabella seolah tersengat mendengar perkataan Silena, “Eh, ti... tidak usah. Aku bisa melakukannya sendiri kok Silena, jangan khawatir.” Arabella tahu Silena bermaksud baik, namun mengerjakan sesuatu hanya berdua dengan Drew? Sama saja cari mati.
“Oh, tidak apa-apa sayang. Aku dengan senang hati akan membantumu. Kau tak perlu khawatir, Silena.” Ujar Drew sambil tersenyum manis pada Silena.
O-ow. Pikir Arabella khawatir. Jika Drew tersenyum seperti itu maka aku bisa dipastikan berada dalam masalah besar.
Silena tersenyum dan mengangguk. “Baguslah. Aku pergi dulu ya.” Ayolah Silena, ini Drew kau tahu? Jangan tinggalkan aku berdua dengannya, pikir Arabella. Tapi Silena memang terlalu baik. Dia nyaris tak pernah menaruh curiga pada siapapun.
“Daa Silena.” Drew melambai ke arah kakaknya. Lalu saat dirasanya Silena tidak akan bisa melihat mereka lagi, Drew menoleh sambil tersenyum dan mengetukkan jemari ke dagunya.
“Nah, Bella sayang. Apa ya yang harus kulakukan padamu?”
“Apa maksudmu? Kita... kita harus menyortir baju baju zirah itu kan?” tanya Arabella berusaha mengendalikan kepanikannya.
“Hmmm... kau klaustrofobia kan?”
“Ti... tidak! Aku...”
“Berarti benar ya. Hmmm, kalau tidak salah aku melihat beberapa peti bekas menyimpan berbagai barang tua yang sudah kosong tadi.” Drew melihat ke arah beberapa anak Aphrodite yang tak jauh dari sana.
“Aphrodite!” Panggil Drew sambil menepukkan tangannya. Arabella bisa merasakan suara Drew penuh dengan kekuatan charmspeak-nya. “Kalian, bantu aku bawakan peti kosong bekas menyimpan peralatan dari loteng dan bawa ke sini segera. Dan kalian... ikat Bella kecil kita dan pastikan kau menyumpal mulutnya dengan rapat.” Drew tersenyum manis seolah apa yang dikatakannya memang sudah seharusnya. Charmspeak-nya begitu kuat hingga Arabella juga merasakan sedikit dorongan untuk membiarkan saja saudara saudaranya mengikat dan menyumpal mulutnya.
“Bagus sekali! Ikatannya sudah kuat, yep. Mulutnya sudah disumpal dengan kuat juga, yep. Nah, tinggal menunggu peti kita.” Ujar Drew sambil tersenyum cerah pada Arabella yang meronta ronta sambil berusaha melepaskan ikatannya. “Ah, itu mereka datang. Ayo cepat anak-anak. Dan ingat, hal ini akan menjadi rahasia kita dan hanya kita. Kalian tahu apa yang bisa kulakukan jika kalian melanggar, kan? Patuhi - perintahku.” Ujar Drew dengan charmspeak yang bahkan lebih kuat lagi.
Para anggota kabin Aphrodite yang tenggelam dalam pengaruh charmspeak Drew hanya bisa mengangguk.
“Ayo, bergerak. Sekap dia dalam peti itu. Oh, dan supaya lebih seru...” Mata Drew berkilat kejam. “Lemparkan petinya ke sungai.”
Beberapa anak Aphrodite mulai nampak gelisah dan tidak melakukan perintah Drew.
“Aku bilang,” Desis Drew dengan kekuatan penuh charmspeak-nya. “Lemparkan petinya ke sungai, saudara-saudaraku tersayang. Sekarang.”
Bagaikan robot, para anggota kabin Aphrodite melaksanakan perintah Drew. Arabella berusaha menjerit saat saudara-saudaranya mengangkat tubuhnya dan melemparkannya ke dalam peti sempit itu, namun mulutnya disumpal terlalu kuat.
“Itulah balasannya karena kau masih saja mendekati Lee. Aku sudah berkali kali memperingatkanmu tapi kau tak pernah mendengarkan.” desis Drew, dia mendekatkan wajahnya pada Arabella. “Selamat tinggal, adik kecil...”
Dengan panik Arabella berusaha melepaskan diri dan bangkit, namun Drew mendorong tubuhnya kembali ke dalam dan dengan cepat menutup peti itu.
Gelap.
Sempit.
Sesak.
Arabella merasa sulit untuk bernapas. Dia terjebak. Dia tak bisa bergerak. Arabella bisa merasakan adrenalin mengalir deras ke seluruh tubuhnya. Dia mau keluar, dia tidak bisa terus terusan di dalam benda ini, dia bisa mati.
“Mmmmpphh!” Dia berusaha menjerit. Tapi tentu saja tak ada yang bisa mendengarnya. Mulutnya disumpal terlalu rapat.
Sesaat kemudian, Arabella merasakan guncangan peti yang mengurungnya melambat. Dia sempat berharap bahwa akhirnya ada yang melihat anak-anak Aphrodite menggotong sebuah peti besar kesana kemari dan merasakannya janggal. Namun ternyata semuanya justru menjadi lebih buruk.
Arabella merasakan tarikan kuat ke satu sisi peti, lalu tiba tiba saja tarikan itu menghilang dan Arabella merasakan seolah bobotnya menghilang. Lalu tiba tiba saja sebuah hentakan keras mengguncangnya. Arabella masih merasakan peti itu bergerak-gerak, namun gerakannya sekarang agak berbeda. Lebih halus, lebih berirama...
Dan Arabella tersadar tiba tiba. Aku sudah dilemparkan ke sungai...
Dengan pikiran yang mengerikan itu, Arabella menjerit dan memberontak semakin keras. Kakinya berusaha menendang nendang bagian atas peti. Namun begitu dia sadar bahwa hal itu tak memperbaiki keadaan, justru memperparahnya dengan gerakan peti yang semakin membuat mual serta kemungkinan peti itu rusak, bocor, dan menenggelamkannya, Arabella menghentikan gerakannya dan memeluk dirinya erat erat untuk mencegah dirinya bergerak panik lagi. Pasrah atas apa yang akan terjadi. Dia hanya berharap Drew akan mengasihaninya.
>>>>>>>>
Lacy
Lacy berlari menjauhi gerombolan anak Aphrodite yang menggotong peti berisi Arabella. Dia berlari setelah memastikan bahwa Drew maupun saudara saudaranya tak memperhatikan. Kepalanya terasa berat dan kakinya seolah berontak, ingin mengikuti suara Drew yang memukau.
Tidak boleh, bentaknya pada diri sendiri. Itu salah. Itu perbuatan Drew. Kau tidak boleh melakukannya.
Lacy berlari melewati jembatan dan merasakan langkahnya mulai meringan. Namun kepalanya masih terasa berkabut dan Lacy merasa tak bisa berpikir jernih.
“Harus menemukan...seseorang.” gumamnya sambil terhuyung berjalan ke arah kabin kabin.
Namun kabin nampak sepi dan lengang. Seluruh demigod sedang bertugas dan menyebar ke berbagai tempat di perkemahan.
“Lacy!”
Lacy menolehkan kepalanya ke arah suara itu. Seorang gadis dan seorang anak lelaki mendekatinya. Dia kenal wajah itu, namun kepalanya seolah menolak bekerja sama.
“Lacy!” panggil gadis itu lagi. “Lacy, kau tak apa apa? Pandanganmu tidak fokus, apa yang terjadi?”
Gadis itu mendekati Lacy dan memegangi tubuhnya. Perlahan kehangatan mulai menjalari tubuh Lacy. Seolah mengangkat kabut yang menyelimuti kepalanya.
“Vala...” tiba tiba Lacy tersadar. “Arabella! Kau harus menolongnya! Danau. Drew. Charmspeak. Dalam peti. Astaga, cepatlah!” seru Lacy panik. Kata katanya tercampur aduk dan tidak jelas.
Vala sesaat nampak bingung, masih berusaha menenangkan Lacy. Namun si anak lelaki menyentakkan tangan Lacy dan menatapnya dengan mata hitamnya.
“Tenanglah. Jelaskan apa maksudmu pada kami.” Ucapnya dengan tegas.
Lacy terpana sesaat, menatap si anak lelaki dan baru menyadari kalau cowok itu cutebanget. Dia baru akan memberi anak lelaki itu nomor telponnya kalau saja dia tidak teringat soal keadaan Arabella.
Lacy menarik napas dan berusaha menceritakan ringkasan kejadian tadi sejelas dan sesingkat mungkin.
Mata Vala melebar saat memahami cerita Lacy dan memotong perkataan putri Aphrodite itu.
“Lacy, kau pergi ke Rumah Besar dan panggil Lee. Aku akan pergi ke danau.” perintahnya.
“Tunggu, Vala, bagaimana denganku?” tanya si anak lelaki.
Vala mengibaskan tangannya tanpa benar benar peduli, “Istirahat saja atau apalah terserah padamu.” Dia sudah berlari seperti kesetanan menuju ke arah danau.
“Eh...kau bisa ikut denganku.” tawar Lacy pada si anak lelaki. Tunggu, sepertinya dia pernah melihat anak itu...
“Kurasa lebih baik aku membantu Vala.” ujarnya sambil mengangguk pada Lacy, lalu mengejar Vala ke arah danau.
Lacy mendesah kecewa. Merasa gagal sebagai putri Aphrodite. Namun sekarang dia memiliki hal lain untuk dikhawatirkan. “Aku harus segera menemui Lee...”
>>>>>>>
Lee
Lee masih sibuk memberikan beberapa instruksi pada Will dan Michael ketika seorang gadis manis berbehel menghampirinya sambil terengah. Lee ingat sepertinya dia salah satu saudari Arabella. Dia tersenyum, ingin menanyakan apa yang bisa dia bantu, namun gadis itu keburu menyerocos duluan.
“Lee, Arabella... butuh...pertolongan... di danau... kurungan...peti.... cepatlah!” serunya sambil terengah engah.
Indera Lee langsung siaga begitu mendengar nama Arabella. Dan seluruh tubuhnya makin tegang saat mendengar bahwa Arabella butuh pertolongan.
“Michael, ambil alih komando para pemanah. Will, katakan pada Chiron aku akan terlambat untuk rapat, wakili aku.” ujarnya cepat dan tegas lalu menoleh ke arah si gadis Aphrodite. “Tunjukkan di mana.”
Si gadis Aphrodite mengangguk dan berbalik menuju ke arah danau. Lee berlari di sampingnya, agak tak sabar karena lari gadis itu dirasanya pelan sekali. Akhirnya Lee mendahuluinya ke arah danau.
Setibanya di sana, dia melihat Vala. Wajahnya pucat dan dia sedang berusaha menyeret Nico keluar dari danau.
“Vala!” panggil Lee. “Di mana...”
“Di tengah danau!” seru Vala sebelum Lee menyelesaikan ucapannya. “Cepatlah, Lee. Bella klaustrofobik!...”
Lee menyuruh gadis Aphrodite yang terengah di belakangnya untuk membantu Vala menarik keluar Nico. Dirinya sendiri melangkah seolah melayang, matanya terpaku pada sebuah peti kayu yang separuh mengapung di tengah danau.
Bells, pikirnya. Bells ada di dalam situ. Bagaimana...
Tapi sekarang bukan saatnya untuk menyelidiki itu. Dia harus menolong Bella.
“Erato!” panggilnya pada pemimpin naiad sahabatnya. “Erato, bantu aku!”
Erato muncul di pinggir danau dekat Lee. Wajahnya nampak marah.
“Aku dan saudari saudariku sudah berusaha membantu gadis itu. Kami sudah mendorongnya perlahan ke pinggir danau. Namun tiba tiba saja seorang blasteran menyerang kami.” matanya menatap marah ke arah Nico yang sedang dirawat oleh Vala. “Kami menyukai saudarimu dan kami tahu dia tak berniat buruk pada kami. Namun blasteran yang bersamanya itu. Hawanya buruk sekali.”
“Baik baik, maafkan Nico, oke? Sekarang aku akan berenang kesana dan aku ingin kau serta saudari saudarimu membantuku menarik Bella.”
Erato mengangguk. Nampak tidak terlalu marah lagi. “Kami mengerti. Kami akan membantumu.”
Lee mengangguk dan langsung menceburkan dirinya ke danau. Berenang dengan cepat ke arah peti kayu berisi Arabella.
Lee memegang sisi sisi peti kayu itu. Menahannya agar tetap diam sebisa mungkin.
“Bells!” seru Lee, salah satu tangannya mencabut belatinya. “Bells, dengarkan aku. Aku akan mengeluarkanmu dari sini, oke? Jangan khawatir, aku akan memegangimu saat kau keluar dari peti. Sekarang jauhi sisi ini.” sebelah tangan Lee memukul sisi kanan peti itu. “Aku akan membuka peti dari sisi ini dan aku akan menancapkan belatiku di sisi ini. Jauhi sisi ini.”
Terdengar jawaban tertahan dari dalam peti.
Demi dewa-dewa, apakah mulutnya juga disumpal? Pikir Lee. Panik dan amarah memenuhi dirinya. Kalau aku tahu siapa yang melakukan ini pada Bells... kalau aku tahu... akan kuhajar dia habis habisan.
“Erato! Tahan peti ini. Aku akan menghancurkannya.” seru Lee. Tubuhnya yang berada di dalam air dapat merasakan perubahan arus air tanda bahwa Erato dan saudari saudarinya sedang bergerak sesusai perintahnya.
Lee menancapkan belatinya ke sisi peti tersebut. Berhati hati agar tidak menancapkannya terlalu dalam dan mengenai Arabella. Dicungkilnya pasak pasak yang membuat peti itu tertutup rapat sekuat tenaga. Telapak tangan Lee sudah kebas dan sedikit berdarah saat akhirnya sisi peti itu terbuka. Lee dengan cepat menyambar Arabella dan menahannya agar tidak tenggelam. Wajah tampannya memerah saat melihat keadaan Arabella yang lemas, diikat tangan dan kakinya, serta disumpal.
Erato dan saudari saudarinya melepaskan ikatan tangan dan kaki Arabella, sedangkan Lee dengan lembut dan sangat hati hati melepaskan kain yang menyumpal mulut Arabella.
Arabella tersengal saat Lee melepaskan sumpalnya. Kedua tangan Arabella merangkul leher Lee. Tubuhnya gemetaran dan Lee dapat melihat bahwa gadis itu habis menangis.
“Bells.” panggil Lee lembut sambil terus berusaha menjaga agar mereka tetap mengapung. “Kau akan baik baik saja, oke? Tenanglah. Aku akan membawamu ke darat. Erato dan saudari saudarinya akan membantumu dan aku berenang ke sana. Lalu setelah itu Vala akan merawatmu sampai kau merasa sehat lagi. Kau dengar aku kan, Bells?”
Arabella mengangguk pelan sambil masih gemetaran. Lengannya masih merangkul erat Lee. Dia nampak masih syok dan ketakutan.
Perlahan, Lee berenang ke tepian sambil terus menahan tubuh Arabella. Dibiarkannya Arabella terus berpegangan erat pada dirinya. Erato dan saudari saudarinya menjaga keseimbangan mereka selagi berenang ke tepian.
Vala menunggu di pinggir danau dengan was was. Nico duduk bersandar di sebuah pohon ditemani si gadis Aphrodite. Lacy. Pikir Lee tiba tiba. Dia ingat sekarang. Nama gadis itu Lacy. Mengetahui bahwa Arabella sudah aman dan berada di sisinya membuat Lee bisa berpikir lebih jernih.
Vala membantu Lee dan Arabella naik ke tepian. Gadis itu segera memapah Arabella ke dekat pohon lain dan menyandarkannya sambil mengucapkan kata kata menenangkan. Dia meletakkan tangan di kening Arabella dan mulai menyenandungkan himne penyembuh Apollo.
Lee berdiri sambil memandangi Arabella. Dia berterima kasih pada Erato dan saudari saudarinya, namun dia tak mengalihkan pandangan dari Arabella. Dia hanya menatap Arabella dari jauh, tidak juga mendekatinya.
Di kepala Lee muncul berbagai pikiran dan pertanyaan dengan serabutan. Akankah Bella baik baik saja? Apakah dia mengalami trauma? Aku harusnya bisa membantu Vala memulihkannya namun aku tak bisa bergerak. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku terlalu marah. Siapa yang tega melakukan itu pada Bella? Bagaimana bisa ada orang yang tega? Bella begitu baik, bagitu menawan... Jika aku tahu siapa yang berani melakukannya... aku akan menjamin dia takkan selamat dariku. Tidak akan sampai dia mendapatkan hukuman yang setimpal.
Lee lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya. Berusaha menenagkan dirinya sendiri. Aku harus berpikir jernih, aku tak boleh bertindak sembarangan. Tapi demi Apollo yang mulia, aku... aku sangat takut. Untuk sesaat yang mengerikan tadi, saat aku tahu Bells ada di dalam peti itu, terkurung, sendirian, sulit bernapas... aku takut. Bahkan lebih takut daripada saat paraDracaena menyerang perkemahan. Aku takut, sangat... aku takut kehilangan Arabella...
Saat itu pandangan Lee bertemu Arabella. Lee memandangya, lekat. Seolah memastikan bahwa itu memang Arabella-nya. Memastikan bahwa dia sudah di sana dan selamat, bahwa dia tak lagi terombang ambing di tengah danau, terkurung dalam peti dengan tangan-kaki terikat serta mulut disumpal.
Arabella sudah aman.
>>>>>>>>
Arabella
Arabella memalingkan wajahnya dan berkonsentrasi pada rasa hangat serta menenangkan yang menjalari seluruh tubuhnya berkat senandung Vala. Dia jengah akan pandangan Lee yang begitu lekat.
Aku pasti jelek sekali, desah Arabella dalam hati. Aku tak tahu lagi apa yang dipikirkannya tentangku. Aku sangat berantakan dengan rambut lepek dan baju basah kuyup tak keruan dan oh, Aphrodite tahu apa lagi yang begitu buruk dariku.
Belum lagi mengingat tadi aku begitu panik sampai sampai aku merangkul Lee dengan begitu erat. Dia pasti risih, mungkin dia terganggu, dan mungkin jengah, dan, oh, Arabella Deshoulieres, kau memang demigod paling kacau yang pernah ada.
Jika kupikir sebelumnya masih ada kesempatan agar Lee bisa tertarik padaku, maka kali ini benar benar tak ada kesempatan lagi.
Tapi... pikir Arabella lagi, wajahnya agak memerah. Setidaknya momen terakhirku ini tak begitu buruk. Lee datang untuk menyelamatkanku. Meskipun aku takkan pernah bisa membuatnya menyukaiku, setidaknya momen tadi bisa jadi pengobat hatiku.
“Nah, kurasa kau sudah baikan. Wajahmu sudah tak sepucat tadi.” ujar Vala pada Arabella, mengejutkannya dari lamunan.
“Eh, iya. Terima kasih banyak, Vala.” jawab Arabella sambil membalas senyum Vala.
“Tak usah berterima kasih padaku. Lee-lah yang membantumu.” ujar Vala sambil mengedikkan kepalanya ke arah Lee yang berjalan mendekati mereka. “Maafkan aku, namun aku harus pergi sekarang. Temanku Nico juga sedang tidak sehat. Lee akan menjagamu. Aku pergi dulu, sampai jumpa Bella.”
Arabella berusaha memandangi Vala dan Lacy yang memapah Nico menjauh, namun ekor matanya tak bisa meninggalkan Lee. Arabella berusaha merapikan diri seadanya tanpa ketara. Kejadian menyelamatkan-merangkul-berenang-bersama tadi membuat Arabella makin gugup di hadapan Lee.
“Hei.” panggil Lee sambil berlutut di sebelahnya. Salah satu sudut bibirnya lebih naik dari yang lain. Membentuk senyum-agak-miring yang sangat Arabella sukai.
“H-hai.”
“Kau sudah baikan?” tanyanya. Mata Lee masih menatap Arabella lekat. Membuatnya tertunduk malu sambil dengan gelisah memainkan ujung kausnya.
Jangan pandangi aku saat jelek begini dong, keluhnya.
“I-iya. Jauh lebih baik. Eh, terima kasih banyak. Sudah... menyelamatkanku tadi.”
Arabella melihat wajah Lee menggelap dan senyumnya memudar.
“Bagaimana kau bisa berakhir seperti itu?” tanya Lee. Wajahnya keras dan Arabella dapat merasakan bahwa Lee sedang marah.
Seorang Lee Fletcher. Marah.
Aduh, apa yang Bella katakan atau perbuat sih tadi?
“Siapa yang membuatmu seperti itu?” tanya Lee lagi.
“Eh, itu...” Arabella menelan ludah dengan gugup dan menceritakan kejadian sebelumnya pada Lee. Merasa sedikit pusing saat mengatakannya. Charmspeak Drew masih bercokol di kepalanya sekalipun sudah cukup lama berlalu dan Vala sudah memulihkan dirinya.
Arabella dengan ngeri menyadari bahwa wajah Lee semakin keruh saat mendengar cerita Arabella.
“L-Lee...?”
“Ayo, Bells, kuantar kau ke kabinku. Kurasa lebih baik untuk sementara kau menginap saja di kabin 7. Vala bisa menemanimu.” ujar Lee sambil memaksakan sebuah senyum.
Arabella mengangguk. Tak berani membantah Lee.
>>>>>>>>
Lee berjalan cepat sambil mencari Drew kemana mana. Tadi Arabella ditinggalkannya bersama Vala yang sedang mengurusi Nico di kabin 7. Lee tidak suka meninggalkan Arabella setelah apa yang terjadi. Dia ingin Arabella selalu berada dekat dengannya. Tapi urusan dengan Drew ini benar benar tak dapat ditunda lagi.
“Drew!” panggilnya keras. Gadis itu sedang melenggak lenggok di dekat istal pegasus dengan baju zirahnya yang takkan bisa digunakan untuk bertarung karena terlalu heboh.
Drew menoleh dan tersenyum senang, “Oh, Lee! Ada apa kau mencariku? Apa kau merindukanku?” tanyanya sambil mengerling.
“Aku harus bicara denganmu. Empat mata. Sekarang.”
Mata Drew bersinar senang, nampaknya dia benar benar tak melihat wajah Lee yang jelas jelas tidak sedang mood mengajak seseorang jalan berdua untuk kencan.
“Oh, baiklah. Kita ke ladang stroberi saja. Di sana sepi. Para satir dan putra Dionysus sedang patroli.”
Sesampainya di ladang stroberi, Drew menoleh dan tersenyum pada Lee. “Nah, apa yang mau kau bicarakan denganku, say?”
Lee menghunus pedangnya, “Hunus pedangmu.” perintahnya dingin.
Drew tergagap dan nampak sangat kaget, juga sedikit takut. “Lee, apa maksudmu? Mengapa...?”
“Aku menantangmu untuk bertarung satu lawan satu. Untuk membayar perbuatanmu pada Bella.” ujar Lee.
Sesaat wajah Drew berkerut mengerikan, lalu cepat cepat wajahnya dimaniskan kembali. “Oh, Lee. Masa hanya karena aku sedikit menggoda adik kecilku kau jadi marah seperti ini? Bella tidak apa apa kok. Aku kan hanya bermain main saja.” ujar Drew dengan charmspeak-nya.
Lee mendengus merendahkan. Dia benar benar marah. “Charmspeak-mu tak bisa mempengaruhiku. Aku adalah putra Apollo, sang dewa musik. Suara dan bunyi adalah keahlianku.”
Wajah Drew nampak ngeri, lalu ekspresinya berubah menjadi sangat marah. “Kenapa sih kau harus begitu marah hanya karena aku mengerjai Bella? Kan terserah padaku aku mau melakukan apa. Kau tak ada hubungannya dengan ini!”
“Kau membuat bisa saja membunuh Bella! Tentu saja itu urusanku!” Teriak Lee marah.
Drew menghentakkan kakinya dengan marah. Air mata mulai menggenangi matanya. “Kenapa sih kau begitu peduli padanya? Kau itu milikku. Dan hanya milikku seorang! Tak ada yang boleh mendekatimu, terutama ARABELLA!” Drew balas menjerit.
“Aku tak pernah jadi milikmu, Tanaka.”
“Tapi kau selalu paling menyukaiku. Kau tak pernah menolakku!”
Lee terhenyak dan dia tersadar. Apa yang dikatakan Drew memang benar. Dia selama ini tahu Drew menyukainya. Namun dia memang tak pernah menolak Drew. Dia menurut saat Drew menggandengnya kemana mana, tidak menolak pemberian pemberiannya, mengiyakan jika Drew ingin Lee menemaninya... Namun Lee kan tak pernah suka pada Drew. Dia hanya berusaha bersikap baik pada Drew. Dia hanya tak ingin Drew sedih dan sakit hati. Lee hanya berusaha bersikap sopan.
Satu satunya yang Lee sukai tetap Arabella.
Perlahan, Lee menurunkan pedangnya. Nada suaranya melembut. “Drew... aku tahu. Maafkan aku. Aku juga salah. Aku tak pernah benar benar mengatakan padamu bahwa aku tak bisa menyambut perasaanmu. Selama ini aku hanya berusaha bersikap sopan padamu. Aku tak mau kau sedih. Tapi aku tidak menyukaimu. Maaf.”
“Tapi apapun alasannya, kau tak seharusnya melakukan hal sejahat itu pada Bella, kau harus meminta maaf dan...”
“DIAAM!” Jerit Drew. “Beraninya kau... beraninya kau menolakku. Aku adalah putri Aphrodite. Dewi cinta dan kecantikan. Kau tak boleh... kau tak bisa...”
“Berhenti!” seru seseorang sambil terengah engah. “Kumohon...berhenti. Sudah, lupakan saja kejadian ini, oke? Tak usah diungkit ungkit lagi. Aku... aku tak apa apa kok.”
Bella, ujar Lee dalam hati. Gadis itu masih memakai pakaiannya yang tadi. Rambut coklatnya yang panjang kini sudah kering, menari nari dengan cantik di sekeliling wajahnya.
“Bells, apa yang kau lakukan di sini? Kau harus istirahat.”
“Aku tak apa apa, Lee. Aku... aku sudah memaafkan Drew kok. Asalkan... asalkan Drew berjanji tak akan mengerjaiku lagi...” ujar Arabella sambil menatap takut takut ke arah Drew.
“Aku yang akan memastikan hal itu.” ujar Lee sambil melangkah ke sisi Arabella. Matanya menatap tenang ke arah Drew.
Drew menatap Lee dan Arabella dengan marah. Lalu berlari meninggalkan mereka berdua sambil terisak marah.
“Aku merasa bersalah karena sudah membuat Drew sampai menangis seperti itu.” ujar Arabella menyesal setelah beberapa saat. Drew sudah hilang dari pandangan mereka.
Lee menggelengkan kepala tak percaya sambil menatap Arabella. “Setelah segala yang dia lakukan padamu, kau masih merasa bersalah hanya karena dia menangis atas kesalahan yang dia lakukan?”
“Dia sangat menyukaimu, Lee.” ucap Arabella pelan.
“Oh, aku lumayan yakin dia akan membuangku setelah dia puas dan mencari pacar baru dalam waktu lebih cepat dari yang dibutuhkannya untuk mengejarku.” Jawab Lee santai. “Lagipula, aku menyukai orang lain.”
Arabella mengernyit. Oh ya, naiad itu. Yang tadi juga membantuku dan Lee. Erato.
Arabella mengangguk dan memaksakan senyum, “Iya.”
Lee menatap Arabella lekat lekat lagi, membuat Arabella kembali jengah. “Kenapa sih?”
“Aku bersungguh sungguh. Soal ucapanku, maksudku. Aku akan memastikan tak seorangpun, termasuk Drew, mengganggumu seperti tadi.” ucap Lee, sedikit gugup, namun tak melepaskan pandangannya dari Arabella.
Wajah Arabella merona, kepalanya ditundukkan agar Lee tak bisa melihatnya. Arabella bingung dengan perkataan Lee. Namun tak bisa dipungkiri bahwa dia merasa sangat senang.
Belum sempat jantungnya berdetak dengan normal kembali, Arabella merasakan Lee mendekat ke arahnya dan mengecup sekilas puncak kepalanya.
“Aku janji.”
>>>>>
The Story of Lee Fletcher
|
|
comments (0)
|

Sebuah Perasaan yang Tak Tersampaikan
Lee
Seperti biasa, Lee sedang melakukan tugas pekanannya bernyanyi untuk para naiad. Para naiad itu memang selalu paling menyukainya. Selalu memintanya untuk tinggal lebih lama. Mereka bahkan mengajaknya untuk berkunjung ke rumah rumah mereka di dasar sungai, yang mereka pikir tentunya undangan yang sangat baik hati, meskipun Lee tidak bisa membayangkan berapa lama dia bisa bertahan di dalam air saat dia berkunjung ke rumah para naiad itu. Dia pasti sudah kehabisan napas bahkan sebelum mencapai pekarangan rumah mereka.
Seorang naiad yang biasa menjadi juru bicara, Erato, meminta Lee menyanyikan lagu yang lain, "Nyanyikan kami lagu yang indah yang bisa membuat kami senang."
"Aku kan sudah menyanyikan 4 lagu malam ini." Protes Lee sambil masih tersenyum. Dia memang tak pernah marah.
"Aku dan saudari saudariku berjanji ini yang terakhir. Sungguh. kami bersumpah demi sungai sungai kami yang indah."
"Baiklah." Lee menghela napas. "Hmmm... lagu apa ya...?"
"Oh!" Lee menjentikkan jarinya. "Lagu indah yang bisa membuat kalian senang. Aku akan menggunakan gitarku kali ini."
"Baiklah, kami mendengarkan." Erato dan saudari saudarinya di dalam air tersenyum gembira.
Lee menarik napas dan mengumpulkan seluruh perasaannya untuk menyanyikan lagu terakhir ini.
>>>>>>>>>>
Arabella
Arabella mengumpat saat tersaruk saruk berjalan menjauhi hutan dan berusaha kembali ke kabin 10. Tadi Drew membuatnya terkena charmspeak lagi dan itu membuatnya sangat kesal. Kenapa sih Drew selalu suka sekali mengganggunya?
Biasanya Silena akan selalu jadi pembela saat Drew mengintimidasi anak anak lain dan menggunakan charmspeak-nya untuk hal-hal jahat. Namun Silena sedang tidak ada di perkemahan. Dia bukan pekemah tahunan dan tentu saja belum datang di awal Februari seperti ini.
Arabella merasakan kepalanya berputar dan keinginan untuk kembali ke hutan dan mencari bando milik Drew yang hilang muncul lagi.
“Charmspeak sialan.” Umpat Arabella berusaha menghilangkan pengaruh charmspeak Drew dari kepalanya. Kenapa harus Drew yang memiliki charmspeak terkuat di kabin Aphrodite? Kenapa dia tidak bisa melakukan charmspeak dan malah begitu mudah terpengaruh?
Namun mengingat kejadian tadi pagi, mau tak mau Arabella tersenyum kecil. Dia tahu mengapa Drew marah padanya. Drew kesal karena tadi pagi Lee menyapanya dengan begitu hangat. Drew memang selalu menganggap Lee miliknya. Padahal kan jelas sekali kalau Lee tidak suka padanya. Lee hanya terlalu baik hati dengan tidak menunjukkannya terang terangan.
Arabella ingat bagaimana tadi pagi wajah Lee bersinar saat melihatnya. Seolah lega bukan Drew yang akan menjadi pelatih adiknya, Vala si anak baru. Lee juga menyapanya dengan ramah dan akrab. “Oh, halo, Bells.”
Jelaslah mengapa Drew kesal.
Arabella dan Lee memang berteman akrab. Meskipun setahun terakhir ini hubungan mereka merenggang. Mungkin karena Lee yang sibuk sebagai konselor dan mengurusi perkemahan yang sebentar lagi sepertinya akan dilanda perang. Atau mungkin karena Arabella yang merasa tidak nyaman berada di dekat Lee saat mulai menyadari perasaannya terhadap putra Apollo itu dan takut Lee akan tahu.
Iya, Arabella memang menyimpan perasaan untuknya. Arabella tidak tahu pasti sejak kapan, tapi yang jelas dia baru menyadarinya setahun belakangan ini. Dari dulu dia menyukai Lee, memang benar. Tapi... bukan dalam artian sesuatu yang spesial.
Arabella tahu pasti kalau Lee tidak akan menyukainya seperti itu. Lee hanya menganggap dirinya sebagai adik kecil yang selalu harus dilindunginya.
Baru saja dia melangkah melewati arena dan melangkah menuju jembatan dia mendengar sebuah alunan merdu suara seorang anak lelaki. Dia menyanyikan lagu yang belum pernah didengar Arabella namun entah mengapa Arabella begitu tersentuh mendengarnya.
“Sitting here, on this lonely dock
Watch the rain play on the ocean top
All the things I feel I need to say
I can't explain in any other way
I need to be bold
Need to jump in the cold water
Need to grow older with a girl like you
Finally see you are naturally
The one to make it so easy
When you show me the truth
Yeah, I'd rather be with you
Say you want the same thing too...”
Tanpa sadar Arabella seolah tertarik ke arah suara itu berasal. Dia berjalan perlahan seolah tersihir ke sisi jembatan yang tertutupi semak semak. Semakin lama suara itu semakin jelas.
Arabella mengenal suara itu.
“...Now here's the sun, come to dry the rain
Warm my shoulders and relieve my pain
You're the one thing that I'm missing here
With you beside me I no longer fear
I need to be bold
Need to jump in the cold water
Need to grow older with a girl like you
Finally see you are naturally
The one to make it so easy
When you show me the truth
Yeah, I'd rather be with you
Say you want the same thing too...”
Arabella berjalan perlahan dan merunduk di balik semak, mengintip ke arah suara itu berasal. Dia bukan hanya mengenal suara itu. Dia tahu pasti siapa pemiliknya.
Disibakannya perlahan semak yang menutupi pandangannya, dan benar saja. Di tepi sungai, bernyanyi sambil menutup matanya dan dikelilingi oleh para naiad yang sebagian besar duduk di sisi sungai, Lee duduk sambil memainkan gitarnya.
“...I could have saved so much time for us
Had I seen the way to get to where I am today
You waited on me for so long
So now, listen to me say,
I need to be bold
Need to jump in the cold water
Need to grow older with a girl like you
Finally see you are naturally
The one to make it so easy
When you show me the truth
Yeah, I'd rather be with you
Say you want the same thing too...”
Lee menyanyikannya lagu itu dengan sepenuh hati. Bagaikan dia memang merasakan apa yang dinyanyikannya.
Terbersit di pikiran Arabella, Mungkin memang benar... Mungkin dia memang menyanyikannya dengan sepenuh hati untuk naiad itu. Mungkin... mungkin dia menyukai naiad itu...
Dan seolah mengiyakan pemikirannya, Lee menghentikan petikan gitarnya dan mengakhiri baris terakhir lagunya dengan hanya suaranya yang merdu. Menatap ke arah naiad yang duduk di tepi sungai sambil tersenyum dengan mata bagai bermimpi.
“Say you feel the way I do...”
Sesaat para naiad itu nampak tersihir, seolah masih tengggelam dalam melodi yang Lee nyanyikan. Lalu bagai diberikan aba aba para naiad itu bersorak gembira sambil bertepuk tangan, saling berbicara satu sama lain dengan bahasa mereka. Memercikkan air kemana mana.
Naiad yang duduk di darat, tepat di sebelah Lee, mengecup pipi Lee dan mengatakan sesuatu. Lee tersipu dan mengangguk. Lalu si naiad tertawa dan menceburkan diri lagi ke sungai, bergabung bersama saudari saudarinya kembali pulang ke rumah mereka di dasar sungai.
Nah, sudah jelas, kan? Pikir Arabella membalikkan tubuhnya sambil terduduk lemas. Lee menyukai naiad itu. Aku memang tolol, menyangka bisa membuatnya menyukaiku...
Karena sibuk dengan pemikirannya sendiri, Arabella tidak sadar akan kehadiran Lee yang mulai bangkit dan berjalan tepat ke arah semak yang dijadikannya tempat bersembunyi.
“Bells? Sedang apa kau di sini?” Tanya Lee dengan kaget saat mendapati Arabella sedang duduk di semak semak, wajahnya sedikit merona.
“Eh, aku...” Arabella bangkit dari duduknya dengan gugup, “a... aku tadi hanya kebetulan lewat... lalu... aku mendengar seseorang bernyanyi...”
Lee memandangnya dengan tatapan menyelidik. “Kau hanya mendengarku bernyanyi? Kau tidak mendengar apa yang dikatakan Erato?”
“Erato?”
“Naiad yang duduk bersamaku tadi.”
“Oh, eh, ti... tidak.” Jawab Arabella. Meskipun aku bisa menduga apa yang dikatakannya.
Lee memandang Arabella dengan kening berkerut. Lalu dia tertawa, “Baiklah. Kurasa aku akan tahu kalau kau berbohong padaku.” Dia tersenyum. “Jadi, menurut pendapatmu bagaimana laguku tadi? Berapa lagu yang kaudengar?”
“Eh... hanya satu. Itu... sangat indah, tentu saja, kau yang menyanyikannya. Seolah... seolah kau benar benar merasakan apa yang kau nyanyikan. Seolah... kau benar benar menyanyikannya untuk seseorang...”
Lee terdiam sesaat, wajahnya memerah dan dia tersenyum malu. “Memang.”
“Oh...” Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Arabella. Merasakan kakinya lemas lagi. Tuh, kan. Dia jelas jelas mengakuinya. Kau sudah nggak punya kesempatan, Bells. Ujarnya pada diri sendiri.
“Eh... untuk naiad yang menciummu tadi?” Dipaksakannya juga bertanya. Lee pasti akan heran kalau dia diam saja.
Lee memandang Arabella dengan kening berkerut lagi.
Apa? Apa ada yang salah kukatakan? Apa harusnya aku tidak bertanya?
Lalu, tiba tiba saja Lee terbahak geli, membuat Arabella kaget. Lee tertawa geli sekali sampai terbungkuk memegangi perutnya.
“Ap... apa yang begitu lucu?” Tanya Arabella dengan bingung.
Dengan susah payah Lee berusaha menghentikan tawanya. “Eh, eh... tidak, tidak ada apa apa. Hahaha... maafkan aku. Tidak ada apa apa. Aku bukan menertawakanmu kok, Bells. Maaf.”
Arabella masih tidak mengerti apa yang membuat Lee tertawa begitu geli. “Baiklaah... Jadi, naiad yang mana yang kausukai? Memang benar yang duduk di sebelahmu itu?”
Lee memandangnya dengan tatapan jahil. “Yang kusukai adalah yang duduk di darat.”
“Oh...” Ujar Arabella. Tadi kan yang duduk di darat hanya naiad yang menciumnya itu. Jadi memang benar...
Lee tergelak lagi, Arabella masih tidak mengerti apa yang membuatnya tertawa. “Ya sudah. Ayo kuantar kau kembali ke kabinmu.”
>>>>>>>>>
Lee
“Say you feel the way I do...”
Lee menghentikan lagunya dengan indah dan membuka matanya. Kepalanya masih dipenuhi wajah Arabella. Gadis yang untuknyalah lagu ini dinyanyikannya.
Lalu tepuk tangan dan sorakan gembira para naiad menyadarkannya. Erato menyerukan sesuatu dalam bahasanya dan mengecup pipinya dengan hangat.
“Pergilah sekarang dan temui si gadis Aphrodite yang kaumaksud dalam lagu itu, katakan padanya apa yang kaurasakan. Aku dan saudari saudariku sudah menahanmu cukup lama, wahai putra dewa musik.“ Ujar Erato sambil tertawa. “Pergilah sana.”
Lee tersipu malu dan mengangguk. Erato tertawa lagi dan melambaikan tangannya, kembali ke dasar sungai.
Sambil bangkit Lee memikirkan kata kata yang diucapkan Erato. Katakan apa yang kurasakan...pada Bells...? Lee pernah diberitahu oleh beberapa temannya, bahkan oleh Vala yang baru mengenal Arabella beberapa waktu, bahwa Arabella juga menyukainya. Bahwa dia harusnya mengatakan perasaaannya pada Arabella sejak dulu.
Tapi, Lee tidak pernah berani.
Lee bukan orang yang pengecut. Dia adalah demigod yang sangat pemberani. Bahkan cenderung nekat. Seperti saat perkemahan mereka diserang oleh para banteng banteng Colchis setahun yang lalu. Lee sendirian menjadikan dirinya umpan saat seorang demigod dari kabin Hermes terluka dan pasti akan dihabisi oleh banteng Colchis tersebut jika Lee tidak mengalihkan perhatiannya. Lee sendiri pasti akan mati terpanggang jika saat itu Percy Jackson tidak datang dan menyabet salah satu taring banteng itu dan membuatnya kehilangan arah.
Tapi memikirkan harus mengatakan pada Arabella bahwa dia menyayanginya lebih dari seorang teman membuat kakinya gemetar.
Sambil melamun, dia melangkah menuju jembatan, melewati semak semak yang tumbuh di pinggiran sungai saat dirinya hampir saja tersandung sesuatu. Disibakannya semak itu dan betapa kagetnya ia saat melihat siapa yang duduk di sana.
“Bells!” ujarnya terperanjat. “Sedang apa kau disini?” tanyanya. Oh, demi dewa dewa, jangan katakan kalau dia mendengar semuanya...
“Eh... aku... aku hanya kebetulan lewat. Lalu aku mendengar seseorang bernyanyi.” Ujarnya.
Lee menatap Arabella dengan panik, udara seolah tersedot keluar dari paru parunya. Apa dia sudah mengetahuinya?Dia mendengarnya? Apa yang dia pikirkan?
Namun bukan Lee jika tidak bisa menampakkan wajah tenang di saat genting. Dia bertanya, “Kau... hanya mendengarku bernyanyi? Kau yakin kau tidak... mendengar sesuatu yang dikatakan Erato?”
Arabella memandang Lee dengan matanya yang indah. “Erato?”
“Naiad yang bersamaku tadi.” Jawab Lee. Mata Arabella memang sangat indah... ya, dia memang sangat cantik...
Lee berusaha memfokuskan pikirannya lagi. Dia mengerjapkan matanya berusaha hanya memikirkan apa yang Arabella katakan.
“Tidak.”
Syukurlah dia tak mendengarnya. Desah Lee lega dalam hati. Tapi tunggu, apa memang benar dia tak mendengarnya? Atau dia menyembunyikan sesuatu?
Lee memandang Arabella lagi. Wajahnya cantiknya nampak polos, sedikit kekanakan. Namun dia menggigit bibirnya, apa ada yang salah?
Lee berusaha memandang mata Arabella, memastikan dia tidak menyembunyikan sesuatu.
Eeh, mungkin sebaiknya dia tidak melakukan itu.
Arabella memiliki mata yang sangat indah, biru jernih bagaikan air yang dalam. Dan bagaikan air dalam, sepasang mata itu bisa menenggelamkan Lee di dalamnya.
Matanya memang sangat indah... Dan di bawah sinar bulan entah mengapa matanya terlihat makin bersinar... Oh, dan dia mengenakan jepit rambutnya yang biasa. Entah mengapa jepit rambut itu selalu membuatnya tampak lebih manis, menurutku. Meskipun dia memang selalu memesona... Lee menatap wajah Arabella lekat, lalu dia tersadar. Ya ampun, apa yang kupikirkan, menatapinya seperti itu? Semoga dia tidak berpikiran yang aneh aneh tentangku.
Lee tertawa gugup. “Eeh, baiklah. Kurasa aku akan tahu juka kau berbohong. Jadi...” Lee memutar otak. Apa yang bisa kukatakan padanya? “Oh ya, bagaimana menurutmu laguku tadi? Eeh... berapa banyak yang kaudengar?”
“Hanya satu.” ujar Arabella. “Itu sangat indah. Maksudku, tentu saja itu indah. Kaulah yang menyanyikannya. Namun seolah... kau benar benar merasakan apa yang kaunyanyikan. Seolah kau memang menyanyikannya untuk seseorang...”
Lee membeku sesaat. Apa dia mengetahuinya? Dia bilang dia tidak mendengar apa yang Erato katakan tapi apa mungkin dia sudah tahu? Tapi... Lee berpikir lagi. Tapi memang apa salahnya kalau dia tahu? Aku... mau bagaimanapun dia akhirnya harus tahu kan? Aku tak boleh jadi pengecut. Jika dia tidak menyukaiku biarlah dia mengatakan begitu.
Lee memandang Arabella dan tersenyum malu, “Memang.” Jawabnya.
Nah, sekarang bagaimana responnya?
“Oh.” ucap Arabella datar. “Eh... untuk naiad yang menciummu tadi?”
Lee memandang Arabella dengan bingung. Naiad yang menciumku? Erato? Kenapa?
Lalu Lee tersadar akan maksud ucapan Arabella itu. Astaga! Pikirnya. Dia tidak tahu jika yang kumaksud adalah dirinya. Dia menyangka itu Erato!
Sekonyong konyong Lee tertawa geli. Demi dewa dewa! Pernyataan cinta pertamaku bahkan tidak disadarinya! Lee tergelak, separuh geli, separuh sedih.
“Apanya yang begitu lucu?” Tanya si polos Arabella dengan bingung.
“Eh, eh... tidak, tidak ada apa apa. Hahaha... maafkan aku. Tidak ada apa apa. Aku tidak menertawakanmu kok, Bells. Maaf.” Lee menghentikan tawanya.
“Baiklah.” Ujar Arabella dengan alis bertaut. “Jadi, yang mana naiad yang kausukai tadi? Memang naiad yang duduk di dekatmu itu?
Karena Arabella tidak menyadari maksud kata katanya, Lee menjadi sedikit senewen. Dia ingin sedikit menggoda Arabella. “Yang kusukai itu yang duduk di darat.” Ujarnya sambil nyengir jahil.
“Oh.” Arabella mengangguk tanpa ekspresi.
Lee jadi makin senewen. Masa dia tidak sadar juga? Jadi dia tidak peduli? Dia benar benar tidak menyukaiku?
Namun akhirnya dia hanya tertawa, “Ya sudah. Ayo kuantar kau kembali ke kabinmu.”
Masih ada kesempatan lain... Pikir Lee.
Andaikan Lee tahu waktunya tak sebanyak itu....
>>>>>>>>>>
Lost Chapter of The Lightning Thief
|
|
comments (0)
|
(Originally posted : October 7, 2012)
Some of you may have read it, some of you may not. So I’m just going to post this.
This is a scene that supposed to be a part of Rick Riordan’s The Lightning Thief but he said that it would be better if this scene was deleted and I can't understand why.
Personally I do think this scene is very interesting. Really, I don’t know why he’d deleted it. But enough for the talk. Enjoy!

When everybody had returned to their seats and finished eating their meals, Chiron pounded his hoof again for our attention.
Mr. D got up with a huge sigh. "Yes, I suppose I'd better say hello to all you brats. Well, hello. Our activities director Chiron says the next capture-the-flag is Friday. Cabin Five presently holds the laurels."
A bunch of ugly cheering rose from the Ares table.
"Personally," Mr. D continued, "I could care less, but congratulations. Also, I should tell you that we have a new camper today. Peter Johnson."
Chiron murmured something.
"Er, Percy Jackson," Mr. D corrected. "That's right. Hurrah, and all that. Now do your silly little welcome tradition. Go on."
Cabin Eleven started a chant, pounding on the table and doing a series of hand-gestures I didn't understand any better than the words:
Half-blood, half-blood, rak-a-sak-a-soo.
Gitcheegumee, ratatooie, whose child are you?
Throw him in, throw him in, welcome to the camp,
No one's a half-blood until they're damp!
Then the tempo changed and everyone in the pavilion drummed their fists on the tables:
Ohhhhhh ---
Percy kiss the boar! Percy kiss the boar!
Percy kiss the boar! Percy kiss the boar!
The bigger guys in Cabin Eleven grabbed me and lifted me over their heads. I struggled a little at first, but I realized there wasn't much point, so I let them carry me down to the cabins, the whole camp laughing and singing and jostling each other.
We went down to Clarisse's cabin, the one with the wild boar mounted above the doorway. Luke lifted me on his shoulders so I could reach it.
"Go ahead, Percy!" he yelled. "A big wet one on the snout!"
The thing was disgusting – moldy and smelly and ugly like you wouldn't believe. The snout was all peeling off and nasty.
"Percy kiss the boar! Percy kiss the boar!" everybody shouted.
Before I could think about it too much, I kissed the boar's nose.
A roar of approval went up from the campers, and I felt . . . weird, like I'd been accepted. I couldn't remember the last time anybody had cheered for me, much less a hundred people and satyrs and wood nymphs.
Before I could start feeling too warm and fuzzy, or even wipe the snout-grime off my lips, the stuffed boar's mouth opened all by itself and let loose an enormous belch right in my face. Everybody roared with laughter. It was a practical joke – a trick boar.
A new chant started: Throw him in! Throw him in!
The guys carried me down to the canoe lake.
I saw what was coming, but I wasn't worried about getting wet. I was thinking: Please don't let this be like the bathroom. Don't hose everybody down.
I didn't need to worry. I went straight in – SPLOOSH! – and right down to the bottom.
When I came up gasping, everybody cheered. Luke and some of the other guys hauled me out and clapped me on the back.
We all headed down to the amphitheater, where Apollo's cabin led the sing-a-long. We sang camp songs and ate s'mores and joked around, and the funny thing was, I didn't feel like anyone was staring at me anymore. I felt like I was home.
Later in the evening, when the sparks from the campfire were curling into a starry sky, the conch horn blew again, and we all filed back to our cabins. I didn't realize how exhausted I was until I collapsed on my borrowed sleeping bag.
My fingers curled around the minotaur horn. I thought for a moment about my mom, but they were good thoughts – her smile, the bedtime stories she would read me when I was a kid, the way she would tell me not to let the bedbugs bite.
When I closed my eyes, I fell asleep instantly.
That was my first day at Camp Half Blood.
I wish I'd known how briefly I would get to enjoy my new home.
Vala Velreya, Daughter of the Sun
|
|
comments (0)
|
(Originally posted : October 5, 2012)
Hello, readers!
It's been quite a long time since my last post. So, here we go. I will introduce you to a demigod. A daughter of Apollo with the gift of the sun.
Her name, is Vala Velreya.

Full name Vala Gwirith Velreya. A daughter of Kenna Velreya and Apollo. Born June 21st. (I'm not telling the year because I'm not sure my self). She used to have a twin sister named Zala, but she died when they were 11. She was killed by a sea-dragon named Zounero.
Kenna Velreya, Vala's mother had also died. She was killed by an unknown monster when Vala and Zala were only 7. The day Kenna and Zala Velreya died was both rainy. So Vala never like a rain, and she has astraphobia (she is afraid of lightning). I personally think it's connected with her being the daughter of the sun god.
After her mother died, Zala provided all they need. From food to money. But later on Vala finds out that it was her father Apollo who provides all their needs and trusted Zala to manage and not to tell Vala the truth.
Wondering why Vala needs to be avoided from the truth? It was because she is destined. Vala hates that word. She doesn't even fully understand what she is destined for. There was only a prophecy that stated that...
Oops, I'm talking too much.
So, that's a short introduction to Vala Velreya. I guess I'll post some of her experience and adventure if I have time. But be careful, knowing too much is never a good thing.
Something Special for Indonesians Seaweed Braniac
|
|
comments (0)
|
(Originally posted : October 7 2012)

Hello seekers!
Yak, jadi posting ini khusus untuk para pecinta buku buku Rick Riordan terutama Percy Jackson and the Olympians series, The Heroes of Olympus series dan Kane Chronicles, yang ada di Indonesia. Karena akan ada sebuah event yang diadakan oleh Noura Publisher yang akan memperebutkan 6 atau lebih buku karangan Rick Riordan yang sudah ditandangani langsung oleh si empunya buku ini. Masih belum ada kejelasan kapan tanggal dan waktu pasti dari event yang kabarnya disebut dengan 'Capture the Book' ini. So, stay tune aja di twitter Noura Publisher: @Nourabooks atau facebooknya: Noura Books. Bisa juga join di blognya : http://nourabooks.blogspot.com/

Good luck! ![]()
My Sketches
|
|
comments (0)
|
(Originally posted : May 13, 2012)
Soo, this is my first time making a realistic sketch like this. Not really good maybe, I’m having a hard time making these sketch. But I like these. I never knew I can draw things like this. So I feel quite satisfied ![]()

And, this picture below was supposed to be Super Junior’s Lee Sungmin . But I guess it’s not really alike, huh? But I love to make this sketches ![]()
Also, I have two more sketches. HSJ’s Okamoto Keito and Liv Tyler as Arwen Undomiel on The Lord of the Rings. Keito looks really weird on my sketch, because it’s hard for me to draw the position of his face. So, I’m so sorry, Keito-san!申し訳ありません! (I copied it from google translate. should be means I'm sorry :P)
But, I think Arwen on this sketch of mine is quite easy to identified. Do you agree? ![]()
Rick Riordan's The Kane Chronicles
|
|
comments (0)
|
(Originally posted : May 11, 2012)
Well, this post is about another masterpiece of Rick Riordan: The Kane Chronicles.
I like the idea of Egyptian gods and goddesses. And the main characters are also really interesting (But no one can beat the swag of Percy Jackson, I assure you). Two siblings, the Kanes. Sadie and Carter. I love both of them. Sadie, with her annoying acts is so real. Rick Riordan surely really understand what’s on us girls’ minds. And Carter… he has his own charms. Unfortunately, he already has Zia Rashid as his primary crush ![]()
Here are the official illustrations of the two siblings. Oh, and Zia too.

CARTER KANE

SADIE KANE

ZIA RASHID
The series has 3 books. The Red Pyramid, The Throne of Fire, and the newest (published on May 1st) is The Serpent’s Shadow. I read in a website, it was Rick Riordan’s website if I’m not mistaken ( www.rickriordan.com ) that he will continue the sequel of the serial. Just like Percy Jackson and The Olympians with The Heroes of Olympus.

THE RED PYRAMID

THE THRONE OF FIRE

THE SERPENT'S SHADOW
In Indonesia, only The Red Pyramid that has been translated. I’m on my way reading the Throne of Fire, but it’s the English version. Can’t wait for the translated version ![]()

THE RED PYRAMID COVER (INDONESIAN VERSION)
